Tampilkan postingan dengan label Yuk ke Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yuk ke Masjid. Tampilkan semua postingan
Selasa, 27 Februari 2018
🕋 Nasehat Bagi Yang Masih "MALAS"tuk Datang ke Majelis Ilmu
Pandai-pandailah mengatur waktu yang Allah Ta’ala berikan kepada kita.
Janganlah kalian menjadi "orang-orang yang merugi", seperti yang dikatakan Allah dalam Firman-Nya 📖 [lihat QS. Al-Asr]
👉 Berikanlah bagian untuk menuntut "Ilmu Syar’i".
Sisihkanlah satu atau dua hari dalam seminggu untuk menghadiri Majelis Ilmu jika tidak mampu melakukannya sesering mungkin.
Jangan biarkan hari-hari kita penuh dengan kesibukan, namun kosong dari menuntut Ilmu dan berdzikir kepada Allah Ta’ala.
👉 Ingat, bahwa orang yang tidak meghadiri Majelis Ilmu dan tidak mau menuntut "Ilmu Syar’i", maka ia akan merugi di dunia dan di akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga...”
📜 [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 6297]
Beliau ﷺ juga bersabda:
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya. Barangsiapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya."
📜 [Hadits ini merupakan potongan dari hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah oleh: HR. Muslim, Abu Daud, dan Ibnu Majah]
Beliau ﷺ juga menganjurkan kita untuk menghadiri majelis ilmu dengan sabdanya:
Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya, "Apakah taman syurga itu?" Beliau menjawab, "Halaqoh dzikir (Majelis Ilmu)."
📜 [Riwayat At Tirmidzi dan dishahihkan Syeikh Salim bin Ied Al Hilali dalam Shahih Kitabul Adzkar 4/ 4]
ℹ Berikut beberapa faidah keutamaan menghadiri Majelis Ilmu:
• Mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan Rasulullah ﷺ, serta mencontoh jalan hidup para salafusshalih.
• Mendapatkan ketenangan.
• Mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
• Dipuji Allah di hadapan para malaikat.
• Mengambil satu jalan mendapatkan warisan para Rasul.
• Mendapatkan ilmu dan adab dari seorang alim.
Seseorang (yang hatinya lurus) akan iri apabila melihat orang-orang yang lebih muda darinya lebih bersemangat dan lebih awal mendatangi Majelis Ilmu.
Ia akan merasa iri pada saat melihat anak-anak kecil dan para pemuda telah hafal Al-Qur'an.
Ia menyesali masa mudanya yang tidak dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menghafal dan menuntut "Ilmu Syar'i".
➡ Akibatnya, ketika ia berkeinginan menghafal dan menuntut ilmu di masa tuanya, banyak kesibukan dan banyak teman-temannya yang menyita waktunya siang dan malam, hanya untuk sesuatu yang tidak membawanya lebih mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.
al-Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) -rahimahullaah- mengatakan,
“Belajar hadits di waktu kecil bagai mengukir di atas batu.”
📃 [Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/ 357, no. 482)]
Oleh karena itu, sebelum kita disibukkan oleh orang lain, direpotkan berbagai urusan, dan menyesal seperti orang yang mengalaminya, maka manfaatkanlah masa muda untuk menuntut "Ilmu Syar’i".
Ini bukan berarti orang yang sudah tua boleh berputus asa dalam menuntut ilmu, namun seluruh umur yang kita miliki adalah kesempatan untuk menuntut ilmu karena ia adalah ibadah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datangnya keyakinan (kematian).”
📖 [Al-Hijr: 99]
Oleh karena itu, para remaja maupun orang tua, laki-laki maupun wanita, segeralah bertaubat kepada Allah Ta’ala atas segala apa yang telah luput dan berlalu.
Sekarang mulailah menuntut ilmu, menghadiri Majelis Ta’lim (Majelis yang isi kajiannya "Ilmu Syar'i"), belajar dengan benar dan sungguh-sungguh, dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya sebelum ajal tiba.
Ketika ditanyakan kepada Imam Ahmad, “Sampai kapankah seseorang menuntut ilmu?” Beliau pun menjawab, “Sampai meninggal dunia (mati).”
📃 [Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 77)]
Baarokallohu Fiikum
📝 Admin MCS
•════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ════•
🕋 Menebar Cahaya Sunnah
【Channel Telegram】
@MenebarCahayaSunnahMCS
Klik ⤵
https://t.me/MenebarCahayaSunnahMCS
•════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ════•
🔈 Silahkan disebar kiriman ini tanpa merubah isinya. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Jazaakumullohu Khoyron.
Senin, 29 Januari 2018
SHALAT GERHANA BULAN TOTAL, 31 JANUARI 2018
Assalamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh..
ikutilah.. SHALAT GERHANA BULAN, pada :
Hari : Rabu
Tanggal : 31 Januari 2018
Waktu : Ba'da Shalat Isya (Isya jam 19.32 Waktu Duren Sawit)
IMAM dan KHATIB SHALAT GERHANA BULAN
Ust. Yudi Abu Yahya,
Masjid Babussalam
Jl. Bunga Rampai 5 Blok 22
RT. 16 RW. 09, Malaka Jaya
Duren Sawit, Jakarta Timur 13460
Telp. 021-8622557, 081211508997
نَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَيَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوْااللهَ وَكَبِّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا …
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. [Muttafaqun ‘alaihi]
Wassalamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.
#MasjidBabussalam #BungaRampai #MalakaJaya #DurenSawit #ShalatGerhanaBulan #Shalatgerhana #shalatkhusuf #yaysanbabussalammalakajaya #khatibdanimamshalatgerhana
Kamis, 25 Januari 2018
KHATIB dan IMAM SHALAT JUMAT tgl. 26 Januari 2018 atau 10 Jumadil Awwal 1439 H Jam : 12.08 WIB
Assalamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh..
KHATIB dan IMAM SHALAT JUMAT tgl. 26 Januari 2018 atau 10 Jumadil Awwal 1439 H
Jam : 12.08 WIB
Ust. Yudi Abu Yahya, Lc
Masjid Babussalam
Jl. Bunga Rampai 5 Blok 22
RT. 16 RW. 09, Malaka Jaya
Duren Sawit, Jakarta Timur 13460
Telp. 021-8622557, 081211508997
"Hai orang-orang yang beriman, apabila diserukan untuk menunaikan Shalat Jumat, maka bersegeralah Kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli" (Al Jumu'ah ayat 9)
Wassalamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh.
#MasjidBabussalam #BungaRampai #MalakaJaya #DurenSawit #JumatBarokah #ShalatJumat #yaysanbabussalammalakajaya #khatibdanimamshalatjumat
Rabu, 04 Oktober 2017
MEMAKMURKAN MASJID
Joint
t.me/@seputartarjiht.me/@muhammadiyah
![]() |
| Masjid Babussalam Malaka Jaya |
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) kecuali kepada Allah, maka semoga mereka menjadi golongan yang mendapatkan petunjuk” [QS at-Taubah ayat 18].
🕌Masjid adalah rumah Allah yang memiliki kedudukan istimewa dengan banyak manfaat yang telah dipersiapkan oleh Allah SWT bagi kaum muslimin dan muslimat yang senang ke masjid. Rasulullah SAW memotivasi kita agar gemar ke masjid dan memberikan kabar gembira sebagai berikut:
🕌1. Langkah menuju masjid merupakan kebaikan dan sarana penghapusan dosa dan meninggikan derajat.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
Dari Abi Hurairah RA: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat.” [Shahih Muslim HN 1070; Sunan Abu Daud HN 1243; Musnad Ahmad HN 7118 & 8906; Sunan Ad-Darimi HN 359]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حِينَ يَخْرُجُ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى مَسْجِدِهِ فَرِجْلٌ تُكْتَبُ حَسَنَةً وَرِجْلٌ تَمْحُو سَيِّئَةً
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Ketika seseorang keluar dari rumahnya menuju masjid, maka tiap langkah satu kakinya dicatat satu kebaikan dan dari kakinya yang satu lagi sebagai penghapus satu kejelekan.” [Sunan Nasai – 698]
Semakin banyak langkah seseorang menuju masjid pahalanya lebih besar. Tersebut dalam hadits dari Abu Musa: “Nabi SAW bersabda: “Orang yang paling banyak mendapatkan pahala dalam shalat adalah mereka yang paling jauh (jarak rumahnya ke masjid), karena paling jauh dalam perjalanannya menuju masjid. Dan orang yang menunggu shalat hingga dia melaksanakan shalat bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang melaksanakan shalat kemudian tidur.” [Shahih Bukhari HN 614]
Secara harfiah, makna masjid adalah tempat bersujud. Masjid adalah rumah Allah tempat para hamba-Nya yang saleh merendahkan diri di hadapan-Nya dengan bersujud melalui shalat.
🕌Masjid adalah simbol segala macam kebaikan. Langkah menuju masjid adalah langkah menuju kebaikan. Melangkah ke masjid dengan niat ikhlas semata-mata untuk melaksakan kewajiban-kewajiban yang Allah tetapkan, adalah sikap penyerahan diri kepada Allah.
Allah memberikan penghargaan sangat tinggi kepada orang-orang yang dengan ikhlas mendatangi rumah-Nya dengan memberikan nilai atas enerji yang dikeluarkan untuk setiap langkahnya. Satu langkah kaki mendapat apresiasi pengampunan atas dosa dan kesalahannya, dan langkah lainnya mendapatkan kebaikan dan peningkatan derajat.
Shalat terbaik adalah yang dikerjakan berjama’ah di masjid. Tentu dengan segala amalan sunnah yang menyertainya. Seseorang yang selalu berusaha melangkahkan kakinya menuju masjid setiap datang waktu shalat, tentu memiliki semangat menjaga dirinya dalam kebaikan dan berusaha menjadi lebih baik.
Langkah ke masjid memiliki makna simbolik sebagai perjalanan menuju kebaikan dan meninggalkan keburukan.
Orang yang menuju kebaikan layak mendapatkan peningkatan derajat, dan orang yang meninggalkan keburukan layak mendapatkan ampunan.
💐2. Berkumpul dalam masjid untuk belajar al-Qur’an memberikan ketenangan, turunnya rahmat Allah, dan dikelilingi para Malaikat.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tidaklah sebuah kaum berkumpul di dalam rumah diantara rumah-rumah Allah ta’ala, membaca kitab Allah, dan saling mempelajarinya diantara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, serta dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka diantara malaikat yang ada di sisi-Nya.” [Sunan Abu Daud HN 1243].
Hadits tersebut menunjukkan bahwa masjid adalah tempat yang sangat baik untuk membaca al-Qur’an, mempelajarinya sampai memahami maksud yang terkandung di dalamnya dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.
Membaca dan mempelajari al-Qur’an di masjid adalah amalan penenang hati, mendatangkan rahmat Allah, dan menghadirkan para Malaikat mengelilinginya. Aura masjid adalah kebaikan dan kesalehan. Berada dalam masjid memberikan semangat menjadi lebih saleh dan lebih baik.
Kita bisa membuat kesepakatan dengan beberapa anggota jama’ah masjid untuk belajar membaca al-Qur’an dan mengaji bersama pada hari-hari tertentu. Kita bisa memilih sekitar waktu shalat fardhu agar langkah kita ke masjid lebih banyak manfaatnya.
Misalnya mengaji pada waktu antara shalat maghrib dan isya’: kita mendapat amalan shalat maghrib berjama’ah, mengaji, menunggu waktu shalat isya’, dan shalat isya’ berjama’ah. Kita bisa juga memilih waktu mengaji bakda shalat subuh: kita mendapat amalan shalat subuh berjama’ah, mengaji, dan shalat dhuha di masjid.
💐3. Melaksanakan shalat berjema’ah dalam masjid lebih utama 25 – 27 derajat dibandingkan shalat di rumah.
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا صَالِحٍ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid berkata, telah menceritakan kepada kami Al A’masy berkata, aku mendengar Abu Shalih berkata, Aku mendengar Abu Hurairah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti palaksanaan shalat.” [Shahih Bukhari HN 611]
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” [Shahih Bukhari HN 609]
Keutamaan melaksanakan shalat fardhu berjama’ah di masjid lebih baik 25-27 derajat menunjukkan salah satu fungsi masjid adalah sebagai booster atau penguat amal shaleh. Anda yang mengendarai kendaraan bermotor, bila bahan bakarnya diberikan booster, maka dengan volume bahan bakar yang sama dapat menempuh jarak yang lebih jauh. Sama-sama melaksanakan shalat, bila Anda melakukannya di masjid akan memperoleh manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan melakukannya di tempat lainnya.
Marilah kita biasakan melaksanakan shalat fardhu di masjid!.
💐4. Mandi kemudian berangkat lebih awal menuju masjid pada hari Jum’at seolah berkorban:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُو اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mandi pada hari Jum’at sebagaimana mandi janabah, lalu berangkat menuju Masjid, maka dia seolah berkurban seekor unta. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) kedua maka dia seolah berkurban seekor sapi. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) ketiga maka dia seolah berkurban seekor kambing yang bertanduk. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) keempat maka dia seolah berkurban seekor ayam. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) kelima maka dia seolah berkurban sebutir telur. Dan apabila imam sudah keluar (untuk memberi khuthbah), maka para Malaikat hadir mendengarkan dzikir (khuthbah tersebut).” [Shahih Bukhari HN 832]
Betapa Allah sangat menghargai orang yang bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan shalat jum’at di masjid. Orang yang mempersiapkan diri lebih dini dan lebih baik mendapatkan apresiasi lebih baik dari Allah SWT.
Idealnya kira-kira 2 jam sebelum khatib naik mimbar kita sudah menghentikan aktifitas lain dan segera membersihkan badan sebagaimana mandi janabah, mengenakan pakaian terbaik yang kita miliki serta memakai wewangian. Selanjutnya berangkat ke masjid lebih awal. Allah memberikan penghargaan atas orang yang baik persiapannya dan datang paling awal seakan-akan ia telah berkorban seekor unta. Unta adalah hewan qurban paling baik. Yang datang berikutnya seakan-akan berkurban dengan sapi, kambing, ayam, dan telur. Semua yang hadir di masjid sebelum imam berkhutbah dicatat oleh Malaikat, dan yang hadir sesudah imam memulai khutbahnya tidak dicatatnya.
Dari Abu Hurairah, dia berkata; “Pada hari jum’at para malaikat duduk pada pintu-pintu masjid, mereka mencatat setiap yang datang untuk shalat jum’at, maka jika imam telah keluar untuk khutbah mereka menutup buku catatan mereka seraya masuk ke dalam masjid untuk ikut mendengarkan khutbah.” [Sunan Ahmad HN 7439]
Telah terbukti dalam setiap urusan, siapa saja yang mempersiapkan diri lebih baik akan mendapatkan hasil yan lebih baik.
💐5. Bila di malam gelap ke Masjid dijanjikan cahaya sempurna di akhirat.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ بُرَيْدَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَشِّرْ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari Abdullah bin Aus dari Buraidah dari dar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Berilah kabar gembira bagi orang yang berjalan pada malam gelap gulita menuju masjid (untuk shalat berjama’ah) bahwa bagi mereka cahaya yang sempurna pada hari kiamat nanti.” [Sunan Abu Daud HN 474]
Waktu shalat Subuh dan Isya adalah waktu gelap. Waktu Isya’ matahari telah tenggelam, dan waktu shubuh matahari belum terbit. Suasana lebih mencekam bila jalanan menuju masjid belum dipasang lampu penerangan. Apalagi bila mendung gelap.
Kegelapan identik dengan kesulitan. Seseorang yang tetap memantapkan dirinya menuju masjid meskipun diliputi berbagai kesulitan, dijanjikan kemudahan yang digambarkan sebagai cahaya yang sempurna.
💞6. Orang yang hatinya terikat dengan masjid mendapat naungan Allah pada hari kiamat.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ‘ibadah kepada Rabbnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’, dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis.” [ HR BUKHARI – 620].
Orang yang hatinya terpaut dengan masjid adalah orang yang senang berada di masjid, selalu berusaha memakmurkannya, menjaganya dalam keadaan yang sebaik-baiknya, dan menjaga hak-haknya. Ia senantiasa melaksanakan shalat secara berjama’ah di masjid. Bila melihat masjidnya kotor, ia mengusahakan agar segera bersih. Bila melihat ada bagian yang rusak, ia berusaha memperbaiki. Bila ada yang tak layak, ia mengusahakan agar menjadi layak. Bila ada yang tak sedap dipandang mata, ia berusaha merapikannya. Ia sangat mencintai rumah Allah tesebut dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya.
💐7. Orang yang membangun masjid akan dibangunkan rumah di surga.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو أَنَّ بُكَيْرًا حَدَّثَهُ أَنَّ عَاصِمَ بْنَ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ عُبَيْدَ اللَّهِ الْخَوْلَانِيَّ أَنَّهُ سَمِعَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ يَقُولُ عِنْدَ قَوْلِ النَّاسِ فِيهِ حِينَ بَنَى مَسْجِدَ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكُمْ أَكْثَرْتُمْ وَإِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ بَنَى مَسْجِدًا قَالَ بُكَيْرٌ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bahwa Bukair menceritakan kepadanya, bahwa ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah menceritakan kepadanya, bahwa dia mendengar ‘Ubaidullah Al Khaulani mendengar ‘Utsman bin ‘Affan berkata di tengah pembicaraan orang-orang sekitar masalah pembangunan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia katakan, “Sungguh, kalian telah banyak berbicara, padahal aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membangun masjid -Bukair berkata, “Menurutku beliau mengatakan- karena mengharapkah ridla Allah, maka Allah akan membangun untuknya yang seperti itu di surga.” [Shahih Bukhari HN 431].
Beberapa hadits menyebutkan rumah yang dibangunkan adalah semisalnya [Musnad Ahmad HN 407], lebih luas [Musnad Ahmad HN 6759], jauh lebih baik [Musnad Ahmad HN 15431]. Sekecil apapun yang dibangun untuk masjid bahkan hanya sebesar sarang burung untuk tempat telurnya, niscaya Allah akan membangunkan rumah baginya di surga [Musnad Ahmad HN 2050].
Hadits-hadits tersebut merupakan motivasi luar biasa bagi setiap muslim untuk senang memperhatikan kebaikan bangunan masjid dan membuatnya menjadi bagus dan nyaman.
Sekecil apapun peran kita dalam membangun masjid akan diberikan penghargaan oleh Allah berupa rumah lebih luas dan lebih baik.
semoga bermanfaat bagi kita semua
Aamiin Allahumma Aamiin.
Sabtu, 17 Juni 2017
Santunan Anak Yatim Masjid Babussalam 18 Juni 2018
Rabu, 12 April 2017
Sholat Subuh Berjamaah dan Kajian Islam bersama Ust. Rachmat Illahi, LC, S.Pdi "Tanda-tanda Hidayah telah Sampai Kepada Kita"
sholat Subuh Berjamaah dan Kajian Islam bersama Ust. Rachmat Illahi, LC, S.Pdi "Tanda-tanda Hidayah telah Sampai Kepada Kita" di Majid Babussalam, Jl. Bunga Rampai V Blok 22 RT.016 RW.09, Malaka Jaya, Duren Sawit, Jaktim 13460 hari Ahad, 16 April 2017/
Langganan:
Postingan (Atom)












