Tampilkan postingan dengan label Pengajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengajian. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 November 2019

Jangan Menghafal al Qur'an Pakai Otak!



Anda ingin dimudahkan oleh Allah SWT di dalam menghafalkan ayat-ayat al Qur'an? Jika iya,  maka salah satu kiatnya adalah: "jangan menghafal al Qur'an pakai otak!" 

"Anda sedang bercanda ya?  Mana mungkin kita bisa menghafal tidak pakai otak?" Wait a minute...  Tunggu dulu..! 

Tidak sedikit di antara kita yang kesulitan sekali menghafal al Qur'an karena hanya mengandalkan kekuatan daya ingat dan otaknya saja.  inilah salah satu kesalahan fatal para penghafal Al Qur'an.  Yang benar  bagaimana?  Hafalkan Al Qur'an dengan hatimu!  

Al kisah,  ada seorang santri  merasa sangat  kesulitan menghafalkan al Qur'an.  Minggu ini ayat ayat dihafal,  minggu depannya lupa,  hari ini ayat-ayat dihafal besok lupa dan seterusnya. Akhirnya dia menyerah dan mohon ijin ke Pak Kyainya untuk berhenti menghafal al Qur'an dan keluar dari pesantren. 

Dengan sabar Pak Kyai  mendengar keluhan dari santri nya tsb. Lalu berkata: "Baiklah Nak,  tapi sebelum kamu pulang,  ini ada surat dari orangtua mu,  belum sempat saya berikan kepada mu,  terimalah dan baca sekarang juga ya...!"

Setelah sang santri membacanya.  Pak  Kyai bertanya :"Apa saja isi surat itu Nak? ".  Dengan lancar sang santri menjawab: " Ibu menanyakan kabar saya Pak Yai,  dan beliau memotivasi saya untuk sabar dan tekun belajar...  bla.. bla...  bla.. " dua lembar surat dari ibunya tersebut diceritakan semua oleh sang santri kepada Pak Kyai. 

Lalu dengan penuh wibawa Pak Kyai bertanya: " berapa lembar surat yang dikirim Ibumu tersebut? " "dua lembar Pak Kyai"  jawab sang santri.  "Berapa kali kamu membaca nya?"  tanya Pak Kyai.  "Satu kali Pak Kyai", jawab sang santri.  "Mengapa kamu bisa hafal isinya? padahal kamu hanya membacanya sekali?!"  Sang santri terdiam dan tidak menjawabnya. 

Lalu Pak Kyai dengan tenang dan penuh wibawa menasihati nya: "Nak...  kamu bisa hafal isi surat dari ibumu meskipun kamu hanya sekali baca...  itu karena kamu membaca nya dengan hatimu,  dengan perasaan cintamu kepada ibumu... Karena itu bacalah Al Qur'an,  hafalkan al Qur'an  juga dengan hatimu,  dengan perasaan mu...  anggap lah ayat-ayat al Qur'an itu surat surat cinta dari Tuhan-mu yang dikirimkan khusus buat mu...  surat surat cinta dari Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepadamu Naaak... " 

Tanpa terasa air mata sang santri meleleh...  dia urungkan niatnya berhenti menghafalkan ayat-ayat al Qur'an..  dia mulai lagi menghafalkan nya dengan penuh perasaan cinta kepada Al Qur'an..  dia hadirkan perasaan cintanya kepada ayat-ayat Al Qur'an.  Surah-surah yang dia baca dan hafalkan itu dia anggap sebai surat-surat cinta dari Alloh yang ditujukan kepadanya.. 

Dan akhirnya... Allah SWT pun menjadikan nya mudah di dalam menghafalkan al Qur'an.

Saudaraku penghafal al Qur'an yang dimuliakan Allah...  cobalah saudaru renungi ayat berikut ini:

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا

Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar).

Perhatian ayat tersebut...  Allah SWT menurunkan ayat-ayatNya secara berangsur-angsur kepada baginda Rasulullah SAW adalah agar ayat-ayat Al Qur'an tertancap kuat ke dalam hati Beliau SAW.

Tidak diragukan lagi... Rasa cinta yang teramat mendalam terhadap Al Qur'an itulah yang akan menjadikan kita dekat dengan Al Qur'an dan dimudahkan untuk membaca, menghafal, memahami maknanya dan mengamalkannya. In syaa Allah..

(Disarikan dari taushiyah Ustadz Bobby Herwibowo, dengan beberapa editing dan tambahan).


 ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Better Education For Better Life
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

SDIT ISANTAMA BLITAR
"Sekolah PaRa Juara"

🏡 Jl. Raya Gaprang - Kanigoro Kab Blitar
(selatan patung sapi desa gaprang)

☎ 0342 - 4551053 / 082.1122.319.00 

Like & Suscribe :
Facebook & Youtube : Insantama Blitar
Instagram & Twitter : @insantamablitar

Selasa, 23 Juli 2019

Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid


  

1.Dimudahkan jalannya menuju surga
Orang yang keluar dari rumahnya menuju masjid untuk menuntut ilmu syar’i, maka ia sedang menempuh jalan menuntut ilmu. Padahal Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga” (HR. At Tirmidzi no. 2682, Abu Daud no. 3641, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

2. Mendapatkan ketenangan, rahmat dan dimuliakan para Malaikat
Orang yang mempelajari Al Qur’an di masjid disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat ketenangan, rahmat dan pemuliaan dari Malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699).
Makna dari وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ “mereka akan dilingkupi para malaikat“, dijelaskan oleh Al Mula Ali Al Qari:
مَعْنَاهُ الْمَعُونَةُ وَتَيْسِيرُ الْمُؤْنَةِ بِالسَّعْيِ فِي طَلَبِهِ
“Maknanya mereka akan ditolong dan dimudahkan dalam upaya mereka menuntut ilmu” (Mirqatul Mafatih, 1/296).

3. Merupakan jihad fi sabilillah
Orang yang berangkat ke masjid untuk menuntut ilmu syar’i dianggap sebagai jihad fi sabilillah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن دخَل مسجِدَنا هذا لِيتعلَّمَ خيرًا أو يُعلِّمَه كان كالمُجاهِدِ في سبيلِ اللهِ ومَن دخَله لغيرِ ذلكَ كان كالنَّاظرِ إلى ما ليس له
“Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa yang memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya” (HR. Ibnu Hibban no. 87, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Mawarid, 69).

4. Dicatat sebagai orang yang shalat hingga kembali ke rumah
Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu), maka selama ia berada di majelis ilmu dan selama ada di masjid, ia terus dicatat sebagai orang yang sedang shalat hingga kembali ke rumah.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إذا تَوضَّأَ أحدُكُم في بيتِهِ ، ثمَّ أتَى المسجدَ ، كان في صلاةٍ حتَّى يرجعَ ، فلا يفعلْ هكَذا : و شبَّكَ بينَ أصابعِهِ
“Jika seseorang berwudhu di rumah, kemudian mendatangi masjid, maka ia terus dicatat sebagai orang yang shalat hingga ia kembali. Maka janganlah ia melakukan seperti ini.. (kemudian beliau mencontohkan tasybik dengan jari-jarinya)” (HR. Al Hakim no. 744, Ibnu Khuzaimah, no. 437, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/101).
Tasybik adalah menjalin jari-jemari.

5. Dicatat amalannya di ‘illiyyin
Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu) hingga waktu shalat selanjutnya (semisal pengajian antara maghrib dan isya), maka ia terus dicatat amalan kebaikan yang ia lakukan di masjid, di ‘illiyyin.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
صلاةٌ في إثرِ صلاةٍ لا لغوَ بينَهما كتابٌ في علِّيِّينَ
“Seorang yang setelah selesai shalat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga shalat berikutnya, tanpa melakukan laghwun (kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin” (HR. Abu Daud no. 1288, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).
Dijelaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili hafizhahullah:
والكتاب في العلِّيِّينَ كتاب لا يكسر و يفتح إلى يوم القيامة محفوظ لا ينقص منه شيئ
“Catatan amal di ‘illiyyin adalah catatan amal yang tidak akan rusak dan tidak akan dibuka hingga hari kiamat, tersimpan awet, tidak akan terkurangi sedikit pun”
Dan tentu saja orang yang menuntut ilmu di masjid akan mendapat semua keutamaan menuntut ilmu secara umum yang ini jumlahnya banyak sekali.
Semoga Allah Ta’ala menambahkan semangat kepada untuk terus menuntut ilmu syar’i, terutama di zaman penuh syubuhat dan fitnah ini.

Semoga Allah memberi taufik.
***

Faidah dari kajian Fiqhu Al Mashalih wal Mafasid, oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili


Selasa, 27 Februari 2018

🕋 Nasehat Bagi Yang Masih "MALAS"tuk Datang ke Majelis Ilmu

 

 



Pandai-pandailah mengatur waktu yang Allah Ta’ala berikan kepada kita.

Janganlah kalian menjadi "orang-orang yang merugi", seperti yang dikatakan Allah dalam Firman-Nya 📖 [lihat QS. Al-Asr]

👉 Berikanlah bagian untuk menuntut "Ilmu Syar’i".

Sisihkanlah satu atau dua hari dalam seminggu untuk menghadiri Majelis Ilmu jika tidak mampu melakukannya sesering mungkin.

Jangan biarkan hari-hari kita penuh dengan kesibukan, namun kosong dari menuntut Ilmu dan berdzikir kepada Allah Ta’ala.

👉 Ingat, bahwa orang yang tidak meghadiri Majelis Ilmu dan tidak mau menuntut "Ilmu Syar’i", maka ia akan merugi di dunia dan di akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga...”
📜 [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 6297]

Beliau ﷺ juga bersabda:
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya. Barangsiapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya."
📜 [Hadits ini merupakan potongan dari hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah oleh: HR. Muslim, Abu Daud, dan Ibnu Majah]

Beliau ﷺ juga menganjurkan kita untuk menghadiri majelis ilmu dengan sabdanya:
Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya, "Apakah taman syurga itu?" Beliau menjawab, "Halaqoh dzikir (Majelis Ilmu)."
📜 [Riwayat At Tirmidzi dan dishahihkan Syeikh Salim bin Ied Al Hilali dalam Shahih Kitabul Adzkar 4/ 4]



ℹ Berikut beberapa faidah keutamaan  menghadiri Majelis Ilmu:

• Mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan Rasulullah ﷺ, serta mencontoh jalan hidup para salafusshalih.
• Mendapatkan ketenangan.
• Mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
• Dipuji Allah di hadapan para malaikat.
• Mengambil satu jalan mendapatkan warisan para Rasul.
• Mendapatkan ilmu dan adab dari seorang alim.



Seseorang (yang hatinya lurus) akan iri apabila melihat orang-orang yang lebih muda darinya lebih bersemangat dan lebih awal mendatangi Majelis Ilmu.

Ia akan merasa iri pada saat melihat anak-anak kecil dan para pemuda telah hafal Al-Qur'an.

Ia menyesali masa mudanya yang tidak dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menghafal dan menuntut "Ilmu Syar'i".

➡ Akibatnya, ketika ia berkeinginan menghafal dan menuntut ilmu di masa tuanya, banyak kesibukan dan banyak teman-temannya yang menyita waktunya siang dan malam, hanya untuk sesuatu yang tidak membawanya lebih mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

al-Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) -rahimahullaah- mengatakan,
“Belajar hadits di waktu kecil bagai mengukir di atas batu.”
📃 [Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/ 357, no. 482)]

Oleh karena itu, sebelum kita disibukkan oleh orang lain, direpotkan berbagai urusan, dan menyesal seperti orang yang mengalaminya, maka manfaatkanlah masa muda untuk menuntut "Ilmu Syar’i".



Ini bukan berarti orang yang sudah tua boleh berputus asa dalam menuntut ilmu, namun seluruh umur yang kita miliki adalah kesempatan untuk menuntut ilmu karena ia adalah ibadah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datangnya keyakinan (kematian).”
📖 [Al-Hijr: 99]

Oleh karena itu, para remaja maupun orang tua, laki-laki maupun wanita, segeralah bertaubat kepada Allah Ta’ala atas segala apa yang telah luput dan berlalu.

Sekarang mulailah menuntut ilmu, menghadiri Majelis Ta’lim (Majelis yang isi kajiannya "Ilmu Syar'i"), belajar dengan benar dan sungguh-sungguh, dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya sebelum ajal tiba.

Ketika ditanyakan kepada Imam Ahmad, “Sampai kapankah seseorang menuntut ilmu?” Beliau pun menjawab, “Sampai meninggal dunia (mati).”
📃 [Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 77)]

Baarokallohu Fiikum



📝 Admin MCS

•════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ════•

🕋 Menebar Cahaya Sunnah

【Channel Telegram】

@MenebarCahayaSunnahMCS
Klik ⤵
https://t.me/MenebarCahayaSunnahMCS

•════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ════•

🔈 Silahkan disebar kiriman ini tanpa merubah isinya. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Jazaakumullohu Khoyron.

Rabu, 21 Februari 2018

Nasehat Bagi Yang Masih "MALAS" atau bahkan "ENGGAN" tuk Datang ke Majelis Ilmu


Pandai-pandailah mengatur waktu yang Allah Ta’ala berikan kepada kita.

Janganlah kalian menjadi "orang-orang yang merugi", seperti yang dikatakan Allah dalam Firman-Nya 📖 [lihat QS. Al-Asr]

👉 Berikanlah bagian untuk menuntut "Ilmu Syar’i".

Sisihkanlah satu atau dua hari dalam seminggu untuk menghadiri Majelis Ilmu jika tidak mampu melakukannya sesering mungkin.

Jangan biarkan hari-hari kita penuh dengan kesibukan, namun kosong dari menuntut Ilmu dan berdzikir kepada Allah Ta’ala.

👉 Ingat, bahwa orang yang tidak meghadiri Majelis Ilmu dan tidak mau menuntut "Ilmu Syar’i", maka ia akan merugi di dunia dan di akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga...”
📜 [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 6297]

Beliau ﷺ juga bersabda:
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya. Barangsiapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya."
📜 [Hadits ini merupakan potongan dari hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah oleh: HR. Muslim, Abu Daud, dan Ibnu Majah]

Beliau ﷺ juga menganjurkan kita untuk menghadiri majelis ilmu dengan sabdanya:
Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya, "Apakah taman syurga itu?" Beliau menjawab, "Halaqoh dzikir (Majelis Ilmu)."
📜 [Riwayat At Tirmidzi dan dishahihkan Syeikh Salim bin Ied Al Hilali dalam Shahih Kitabul Adzkar 4/ 4]



ℹ Berikut beberapa faidah keutamaan  menghadiri Majelis Ilmu:

• Mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan Rasulullah ﷺ, serta mencontoh jalan hidup para salafusshalih.
• Mendapatkan ketenangan.
• Mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
• Dipuji Allah di hadapan para malaikat.
• Mengambil satu jalan mendapatkan warisan para Rasul.
• Mendapatkan ilmu dan adab dari seorang alim.



Seseorang (yang hatinya lurus) akan iri apabila melihat orang-orang yang lebih muda darinya lebih bersemangat dan lebih awal mendatangi Majelis Ilmu.

Ia akan merasa iri pada saat melihat anak-anak kecil dan para pemuda telah hafal Al-Qur'an.

Ia menyesali masa mudanya yang tidak dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menghafal dan menuntut "Ilmu Syar'i".

➡ Akibatnya, ketika ia berkeinginan menghafal dan menuntut ilmu di masa tuanya, banyak kesibukan dan banyak teman-temannya yang menyita waktunya siang dan malam, hanya untuk sesuatu yang tidak membawanya lebih mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

al-Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) -rahimahullaah- mengatakan,
“Belajar hadits di waktu kecil bagai mengukir di atas batu.”
📃 [Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/ 357, no. 482)]

Oleh karena itu, sebelum kita disibukkan oleh orang lain, direpotkan berbagai urusan, dan menyesal seperti orang yang mengalaminya, maka manfaatkanlah masa muda untuk menuntut "Ilmu Syar’i".



Ini bukan berarti orang yang sudah tua boleh berputus asa dalam menuntut ilmu, namun seluruh umur yang kita miliki adalah kesempatan untuk menuntut ilmu karena ia adalah ibadah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datangnya keyakinan (kematian).”
📖 [Al-Hijr: 99]

Oleh karena itu, para remaja maupun orang tua, laki-laki maupun wanita, segeralah bertaubat kepada Allah Ta’ala atas segala apa yang telah luput dan berlalu.

Sekarang mulailah menuntut ilmu, menghadiri Majelis Ta’lim (Majelis yang isi kajiannya "Ilmu Syar'i"), belajar dengan benar dan sungguh-sungguh, dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya sebelum ajal tiba.

Ketika ditanyakan kepada Imam Ahmad, “Sampai kapankah seseorang menuntut ilmu?” Beliau pun menjawab, “Sampai meninggal dunia (mati).”
📃 [Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 77)]

Baarokallohu Fiikum



📝 Admin MCS

•════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ════•

🕋 Menebar Cahaya Sunnah

【Channel Telegram】

@MenebarCahayaSunnahMCS
Klik ⤵
https://t.me/MenebarCahayaSunnahMCS

•════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ════•

🔈 Silahkan disebar kiriman ini tanpa merubah isinya. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Jazaakumullohu Khoyron.

Senin, 20 Maret 2017

JANGAN BANGGA DENGAN BANYAK SHALAT,PUASA DAN ZIKIR KARENA ITU SEMUA BELUM MEMBUAT ALLAH SENANG !!!

⁠⁠⁠Alkisah ada ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yg kuat sekali tahajudnya. Hampir ber-tahun2 dia tdk pernah absen melakukan sholat tahajud. Pd suatu ketika saat hendak mengambil wudhu utk tahajud, Abu dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yg duduk di bibir sumurnya. Abu bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau ?”. Sambil tersenyum, sosok itu berkata; “Aku Malaikat utusan Allah” Abu Bin Hazim kaget sekaligus bangga krn kedatangan tamu malaikat mulia. Dia lalu bertanya, “Apa yg sedang kamu lakukan di sini ?” Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah” Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, Abu lalu bertanya; “Wahai Malaikat, buku apakah yg kau bawa ?” Malaikat menjawab; “Ini adalah kumpulan nama hamba2 pencinta Allah.” Mendengar jawaban Malaikat, Abu bin Hasyim berharap dlm hati namanya ada disitu. Maka ditanyalah Malaikat itu. “Wahai Malaikat, adakah namaku disitu ?” Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yg tdk kenal putusnya. Selalu mengerjakan sholat tahajud setiap malam, berdo’a dan bermunajat pd Allâh SWT di sepertiga malam. “Baiklah, aku buka,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan ternyata Malaikat itu tdk menemukn nama Abu di dalamnya. Tdk percaya, Abu bin Hazim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi. “Betul … namamu tdk ada di dalam buku ini !” kata Malaikat. Abu bin Hazim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. Dia menangis se-jadi2nya. “Rugi sekali diriku yg selalu tegak berdiri di setiap malam dlm tahajud dan bermunajat … tetapi namaku tdk masuk dlm golongan para hamba pecinta Allah,” ratapnya. Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim ! Bukan aku tdk tahu engkau bangun setiap malam ketika yg lain tidur … mengambil air wudhu dan kedinginan pd saat orang lain terlelap dlm buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allâh menulis namamu.” “Apakah gerangan yg menjadi penyebabnya ?” tanya Abu bin Hasyim. “Engkau memang bermunajat kpd Allâh, tapi engkau pamerkan dgn rasa bangga ke- mana2 dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Di kanan kirimu ada org sakit atau lapar, tdk engkau tengok dan beri makan. Bgmn mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau sendiri tdk pernah mencintai hamba2 yg diciptakan Allâh ?” kata Malaikat itu. Abu bin Hasyim spt disambar petir di siang bolong. Dia tersadar hubungan ibadah manusia tdklah hanya kpd Allâh semata (hablumminAllâh), tetapi juga ke sesama manusia (hablumminannâs) dan alam 🕋🕋🕋   

 JANGAN BANGGA DENGAN BANYAK SHALAT,PUASA DAN ZIKIR KARENA ITU SEMUA BELUM MEMBUAT ALLAH  SENANG !!!

```MAU TAHU APA YANG MEMBUAT ALLAH  SENANG ???

Nabi Musa : Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang ?

Allah :
SHOLAT ? Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.

DZIKIR ? Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang.

PUASA ? Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.

Nabi Musa : Lalu apa  yang membuat hatiMu senang Ya Allah ?

Allah : SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT serta PERBUATAN BAIKmu. 
Itulah yang membuat AKU senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, AKU hadir disampingnya. ---Dan AKU akan mengganti dengan ganjaran 700 kali (Al-Baqarah 261-262)---

Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu... maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah.
Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain... maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya.
Buatlah Allah senang maka Allah akan limpahkan rahmat-Nya dengan membuat hidupmu lapang  dan bahagia

(Kitab Mukasyafatul Qulub  Karya Imam Al Ghazali)
Saudaraku seiman sebarkanlah ilmu ini agar makin Barokah.
Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.
Barokallah.

Sabtu, 18 Februari 2017

Manfaat Ilmiah dari Membaca Al Qur'an yang Belum Banyak Orang Menyadari

  
“Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. Di antaranya, menyedikitkan makan, membiasakan melaksanakan ibadah salat malam, dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”. Selanjutnya ia berkata, “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Alqur’an”.

Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.

Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang men dengarkannya.

Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alqur’an.

Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alqur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur’an.

Alquran memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.

Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Al quran. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Alquran lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).

Maha benar Allah yang telah berfirman, “Dan apabila dibacakan Alquran, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. 7: 204).

Subhanallah ternyata membaca dan mendengar ayat-ayat suci Al Qur'an dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap kejiwaan kita. Semoga sedikit kajian di atas bisa menjadikan kita lebih sering lagi membaca kitab suci Al Qur'an yang belum banyak orang menyadari akan keistimewaan membaca Al Qur'an. Wallahu A'lam Bishawab.